08 February, 2013

Menjenguk Islam di Negara Kuno, Mali

REPUBLIKA.CO.ID - 8 Februari 2013.
Mali, salah sebuah negara di dunia yang kaya warisan budaya ini memiliki sejarah Islam yang cukup panjang. Saat ini, negara di subsahara Afrika tersebut tengah mengalami gejolak politik sejak Januari tahun lalu. Terletak di Afrika Barat, Mali menjadi negara yang diapit daratan dan sahara. Ibu negara Mali ialah Bamako. ia dikelilingi Pantai Gading, Aljazair, Nigeria, Burkina Faso, Guinea, Senegal dan Mauritania.



Muslim di negara seluas 1.24 juta kilometer tersebut mencecah 12 juta orang atau sekitar 92,5 peratus daripada jumlah keseluruhan penduduk 14.5 juta orang. Sebagai umat majoriti, muslim Mali hidup dengan rukun dan damai. Mereka pun sangat bertolak ansur dengan penganut agama lain. Hubungan mereka harmoni tanpa ketegangan antara penganut agama. Mereka saling berkunjung menghadiri perayaan pernikahan ataupun kematian. Kepercayaan tradisional pun telah bergabung dengan baik sehingga budaya Islam dan budaya asli setempat tidak mengalami percanggahan atau perselisihan. Dalam sebuah manuskrip kuno di Universiti Tombuktu tercatat bahwa pendekatan tradisional ke Islam berlaku secara relatifnya sederhana.



Wanita muslim Mali, seperti di negara Afrika lain, tidak banyak memakai jilbab. Biasanya mereka memakai tudung yang dililit menutup kepala dan rambut, namun dengan leher terbuka. Tudung tersebut memang telah menjadi model jilbab kebanyakan muslimah Afrika selain Timur Tengah.


Mali terkenal dengan peradaban Islam yang tinggi. Banyak tempat peninggalan peradaban masa lalu yang kini dijadikan tempat warisan dunia oleh UNESCO. Peradaban tersebut dibawa oleh Islam sejak abad kesembilan. Saat itu, islam masuk ke Afrika Barat oleh pedagang Muslim Berber dan Tuareg. Tidak hanya terbatas kepada kepercayaan, Islam membentuk sistem politik, sosial hingga seni budaya. Kerajaan Mali telah berdiri kukuh di sana jauh sebelum negara tersebut kemudian dijajah oleh Perancis.



Mansa Musa, merupakan salah seorang raja di kerajaan tersebut yang paling banyak perubahan dan membawa pengaruh bagi peradaban Islam di Mali. Pada masa keemasan kerajaan itu, ilmu matematik, astronomi, sastera dan seni berkembang pesat di Mali. Peradaban Islam terus berkembang hingga ke abad 19 ketika Mali dikuasai Perancis. Mali merdeka di tahun 1960 sebagai negara Republik. Tiga kota Mali yakni Timbuktu, Gaio dan Kano telah menjadi pusat pembelajaran Islam antarabnagsa. Salah sebuah kota, Timbuku, sangat kaya dengan peradaban Islam. Di sanalah banyak sumber manuskrip Islam yang disalin atau ditulis sejak abad ke-14. Timbuktu merupakan kota legenda yang telah menjadi kota perdagangan sejak sejarah Mali dimulai. Kota di Mali Utara tersebut telah menjadi kota komersial bagi para pedagang Meriteranian mendapat emas dari Afrika Barat dan Selatan. Selama lebih 600 tahun, Timbuktu juga menjadi pusat agama dan budaya Islam.

Persoalan, apakah punca negara ini diserang kafir Perancis?



 

No comments:

linkwithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...